Hakim Monalisa Siagian Dissention Opinion Terdakwa Nasir Hutabarat Terbukti, Dua Hakim Yang Bebaskan

Pengunjung sidang berdesakan saat pembacaan putusan terdakwaa Roma Nasir Hutabarat (Nik).

TELISIKNEWS.COM,BATAM РDissenting opinion adalah pendapat berbeda dari mayoritas atau pendapat hakim yang berbeda dalam suatu putusan. Mulai dari fakta hukum, pertimbangan hukum,sampai amar putusannya berbeda.

Salah satu anggota majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam, Monalisa Anita Theresia Siagian memberikan pendapat berbeda (Dissenting Opinion) atas putusan Onslag (lepas dari segala tuntutan hukum) yang dijatuhkan terhadap terdakwa Roma Nasir Hutabarat, dalam kasus penggelapan dan penipuan.

Bacaan Lainnya

Dalam dissenting opinion yang dibacakan pada sidang pembacaan putusan,Senin (13/5 /2024) siang, Monalisa berpendapat bahwa perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa Roma Nasir Hutabarat dalam kasus tersebut masuk dalam kategori perbuatan tindak pidana.

Sehingga ia berkesimpulan, seharusnya terdakwa harus diberikan putusan bersalah, dan mendapat hukuman pidana atas perbuatan yang dilakukan.

Atas dissenting opinion tersebut, tim pendamping korban atau konsumen, Ir. Petra Tarigan, M.T memberikan apresiasi dan terima kasih atas keberanian yang dilakukan oleh Monalisa Siagian. Menurutnya, dissenting opinion itu membuktikan bahwa putusan Onslag terhadap terdakwa harusnya dikaji.

“Terimakasih kepada ibu Mona, dissenting opinion ini setidaknya menjadi pijakan kami dalam mencari keadilan,” ucap Petra Tarigan yang dikenal sebagai tokoh aktivis dan tokoh akademisi di Batam.

Para korban lakukam orasi usai putusan Onslag di PN Batam (nik).

Dalam kesempatan tersebut, Petra Tarigan mengaku kecewa dengan putusan Onslag yang didasarkan pada kesimpulan dari dua majelis hakim lainnya, yakni hakim anggota David Sitorus dan ketua majelis hakim Beny Yoga. Dimana menurutnya bahwa perbuatan terdakwa sudah merugikan banyak orang dan seharusnya divonis bersalah atas perbuatannya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Munir, salah seorang korban yang mengaku sangat kecewa dengan putusan majelis hakim. Terlebih menurutnya dalam agenda putusan tersebut terdakwa Roma Nasir Hutabarat melakukan pengarahan massa orang-orang yang tidak seharusnya hadir di persidangan. Sehingga mereka terhalang mengikuti persidangan.

Menurut Munir bahwa hari ini sangat merasakan luar biasa dasyatnya. Karena selama 4 tahun berproses di pasal penipuan dan penggelapan terhadap dakwaan terdakwa Nasir Hutabarat, tidak menyangka hakim memutuskan “bebas “.

Sudah jelas-jelas setiap fakta persidangan, semuanya bukti- bukti tidak ada yang dibantah sama terdakwa dan mengiyakan semuanya.

“Uang kami yang diambil sebelum AJB dan BPHTB, itulah yang di dalilkan hakim sisa bayar BPHTB, AJB dan lainya. Inikan aneh. Sementara, kami tahu bahwa hakim adalah wakil Tuhan sehingga kami percaya. Tapi faktanya, kami sangat kecewa dengan hakim David Sitorus dan Beni Yoga itu,” ungkap Munir.

“Bagaimana kota Batam ini bisa damai dan kondusitf kalau dua hakim tadi, tidak memiliki hati nurani memutuskan perkara ini. Karena kami orang -orang kecil melawan orang besar seperti Nasir Hutabarat. Bahkan tadi saya di keroyok orang yang tidak dikenal. Bukan itu saja, setiap persidangan kami selalu mendapat presure. Tapi pembiaran dilakukan oleh dua hakim tersebut dan inilah faktanya,” tutur salah satu saksi korban, Munir sambil menangis dihadapan Wakil Ketua PN Batam, Tiwik SH saat menerima para korban dugaan penipuan oleh terdakwa Nasir.

Untuk itu, selaku korban ia bersama dengan para korban lainnya akan berjuang semaksimal mungkin untuk mencari keadilan atas putusan Onslag tersebut. (Nik).

Editor : Novi

Pos terkait

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan oleh advertiser. Wartawan Telisiknews.com tidak terlibat dalam aktivitas jurnalisme artikel ini.