Dampaknya Lingkungan dan Manusia, Gunawan Siregar Jadi Terdakwa Limbah B3 PT. Musi Mas Batam

Terdakwa Gunawan Siregar duduk di kursi pesakitan saat sidang eksepsi dari kuasa hukumnya di PN Batam (sin).

TELISIKNEWS.COM,BATAM – Dari analisa dan uji laboratorium tanah serta pendapat ahli dan fakta di lokasi bahwa, dampak dari limbah B3 berupa Spent Bleaching Earth (SBE) yang dapat dihasilkan PT Musi Mas Batam sebanyak ± 20 – 25 ton per hari merusak lingkungan hidup dan kesehatan manusia.

Sejak tahun 2015, terdakwa Ir. Gunawan Siregar selaku Direktur Utama PT Musi Mas telah membayarkan retribusi untuk 18.131 ton sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), dan pada tahun 2016 untuk 16.070 ton. Walaupun pada surat pemberitahuan/ rekomendasi telah ditetapkan kapasitas maksimal adalah 11.000 ton pertahun, namun terdakwa tetap tidak diindahkannya.

Bacaan Lainnya

Kapasitas produksi pada PT Musim Mas Batam sebesar 538.740 ton per tahun. Dimana proses produksi itu mengasilkan limbah B3 berupa Spent Bleaching Earth (SBE) yang dapat dihasilkan sebanyak ± 20 – 25 ton per hari.

Menurut Ahli Drs. Iyan Suwargana, M.Si menjelaskan berdasarkan hasil Laboratory Analysis Report dari PT Organo Science Laboratorium Nomor: OSL2203096 tanggal 1 April 2022, menunjukkan bahwa tanah disekitar TPA Telaga Punggur yang dijadikan tempat pembuangan limbah SBE yang berada pada titik koordinat N 01o 02’56.152”, E1 04007’15.153” telah tercemar limbah B3 SBE.

Hal ini terbukti kandungan minyak dan grease (kode sampel PGR- T6 A) sebesar 121 mg/kg lebih besar dari kandungan  minyak dan grease (kode sampel PGR-T5 A) pada tanah pembanding yang berada pada titik koordinat N 010 02’48.75”, E1 04007’41.42” di Lahan Jl. Pattimura (berjarak ± 1 km dari TPA Telaga Punggur) yaitu sebesar 112 mg/kg;.

Akibat dari pembuangan/dumping limbah B3 berupa SBE tanpa izin pemerintah dan tidak memenuhi persyaratan dapat berpotensi merusak atau mencemari tanah dan air tanah, mengingat limbah bahan berbahaya dan beracun mempunyai potensi yang cukup besar untuk menimbulkan dampak negative sehingga lingkungan tersebut tidak lagi sesuai dengan peruntukannya.

Sedangkan efek jangka panjang, jika hujan akan melarutkan limbah tersebut ke lingkungan. Maksudnya limbah B3 tersebut akan terakumulasi di konsumen tingkat tinggi seperti manusia melalui jalur rantai makanan, misalnya jika manusia mengkonsumsi air yang tercemar, ikan atau tumbuhan yang menyerap pencemar atau terkontaminasi limbah B3 tersebut.

Pada kondisi inilah akan mulai dirasakan dampaknya oleh manusia seperti Sakit kepala, pusing-pusing, muntah-muntah dan diare, darah tinggi, kanker, gagal ginjal, gangguan hati, dan lain-lain.

Sementara menurut Ahli Prof. Dr.Basuki Wasis, M.Si. menjelaskan standart baku mutu lingkungan hidup dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup yang ahli pakai sebagai acuan atas sampel yang telah diambil oleh penyidik KLHK di areal Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Telaga Punggur Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau adalah berdasarkan PP Nomor 150 tahun 2000 dan Kepmen Nomor: Kep-43/MenLH/10/1996.

Berdasarkan hasil analisa laboratorium memang telah terjadi kerusakan lingkungan, adapun secara rinci hasilnya sebagai berikut:

Hasil analisa tanah di Laboratorium ICBB, PT Biodiversitas Bioteknologi Indonesia  (PTBBI) Nomor: 0367/LHP/PTBBI.MARK/IV/2022 tanggal 5 April 2022 pada tanah rusak akibat penimbunan limbah telah terjadi kerusakan tanah untuk parameter pH tanah, dimana kriteria ambang kritis > 8,5.  Adapun pH  tanah  yang mengalami kerusakan tanah adalah pada sampel PGR T2 AA1 (8,83) (PP Nomor 150 tahun 2000);

PT Musim Mas mulai beroperasi di Batam sejak tahun 2009 yang bergerak dibidang Industri kima dasar organik yang menghasilkan bahan kimia khusus, industri kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian dan industri minyak goreng kelapa sawit  (refinery minyak kelapa sawit), atau minyak jadi Sunco.

Atas perintah terdakwa PT. Musim Mas, Budianto selaku Direktur PT Earlangga membuang limbah B3 berupa SBE ke zona F yang belum dibangun landfill lalu didorong dengan excavator dengan harapan akan turun ke zona G walaupun terdakwa PT. Musim Mas mengetahui zona F bukanlah yang ditentukan.

Terdakwa telah bekerja sama dengan PT Earlangga untuk melakukan pengangkutan dan pengelolaan SBE milik PT Musim Mas sejak tahun 2011, meskipun PT Earlangga tidak pernah memiliki perijinan untuk pengangkutan ataupun pengelolaan limbah B3.

Perbuatan terdakwa merupakan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 98 Ayat (1) Jo. Pasal 116 ayat (1) huruf a jo Pasal 118 jo Pasal 119 Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dengan Undang-undang Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja sebagaimana telah diubah dalam Undang-undang (UU) Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang.

Dakwaan kedua bahwa perbuatan terdakwa Gunawan Siregar merupakan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 104 jo Pasal 116 ayat (1) huruf a jo Pasal 118 jo Pasal 119 Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja sebagaimana telah diubah dalam Undang-undang (UU) Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang. (Nik).

Editor : Novi

Pos terkait

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan oleh advertiser. Wartawan Telisiknews.com tidak terlibat dalam aktivitas jurnalisme artikel ini.