85

Aduhhh…Jeritan Guru Honorer Kepri, 4 Bulan Tidak Gajian

TELISIKNEWS.COM, BATAM – Menjadi seorang guru bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi jika hanya honorer. Dunia pendidikan Indonesia begitu miris bila dilihat dari gaji para guru honorer, masih sangat jauh dari kata layak dan bahkan 3 kali libat dibawah upah buruh pabrik.

Aduhh….Guru “Pahlawan Tanda Jasa” namun kesejahteraanmu jauh dari perhatian pemerintah. Kalian sangat tulus mengabdi untuk negeri inj bukan semata karena kepentingan pribadi tapi demi masa depan bangsamu.

Kini jeritan guru honorer di Kepulauan Riau khususnya Kota Batam dibawah pimpinan Pemprop Kepri, kembali menangis karena 4 bulan tidak mendapatkan gaji. Sementara pencitraan untuk kepentingan sekolah maupun pribadi jauh dari gaji yang akan dibayarkan pada seorang guru honorer.

Inilah potret kehidupan yang dialamai para guru honorer di negeri ini. Digaji dengan nominal yang sangat tidak pantas untuk disebut jika dibandingkan dengan air keringat perjuangan dan pengorbanan mereka saat mengajari anak negeri ini.

Hal ini diungkapkan guru honorer di SLB Negeri Batam dan guru SMA Negeri di Batam Center, Sabtu ( 10/3/2018). Dengan sangat hati-hati berbicara pada wartawan media ini. Raut wajahnya yang tulus mengungkapkan cerita gaji yang belum diterimanya.

“Saya mengajar sudah cukup lumayan lama mengajar tapi nasib seperti ini. 4 bulan gaji honorer bulan terima sementara kebutuhan hidup sehari – hari tidak bisa dihentikan. Bukan itu saja, bayar listri dan air dan uang kost juga mendesak”, ujarnya.

Menjadi seorang guru bukan seperti membalikkan telapak tangan penuh perjuangan. Namun jika dijalankan dengan ikhlas semua akan hilang dan berubah menjadi sebuah kebahagiaan.

Dibalik kesedihan itu tentunya ada suatu kebahagiaan, mendapatkan senyuman ceria dari anak didik SLB Negeri Batam saat mengajar. Mereka semuanya sangat tulus sekalipun berkebutuhan khusus, dan situlah banyak pengalaman hidup yang kudapatkan.

Dukungan dari keluarga untuk mengajar juga sangat besar, guna melanjutkan harapan-harapan anak bangsa. Karena guru adalah penolong untuk mencerdaskan mereka. Kami guru honorer ini jauh dari perhatian dari pemerintah, buktinya gaji yang tidak seberapa harus telat juga dibayarkan.

“Hal yang paling menyedihkan menjadi seorang guru honorer adalah ketika hendak berangkat mengajar tidak punya uang untuk membeli minyak motor, belum lagi dirumah untuk belanja. Namun semua itu saya usahakan agar tetap bisa mengajar murid-murid tercinta”, tuturnya sedih

Menjadi seorang guru honorer dengan gaji antara Rp 800.000 hingga Rp 1.500.000 ribu per bulan, jauh dari hidup yang layak. Untuk menutupi selama 4 bulan ini terpaksa meminjam pada keluarga dan orangtua di kampunh.

“Kadang air mata saya jatuh berderai”, ungkap wanita tersebut dengan senyuman yang penuh dengan kesedihan.

Nikson Juntak