Romo Karl Edmund Prier Maafkan Sulyono, Pelaku Peyerangan Gereja Katholik Bedog

TELISIKNEWS.COM, Yogyakarta – Inilah kisah hidup yang nyata dialami Romo Karl Edmund Prier saat memimpin misa di gereja St. Lidwina Bedog. Tersangka Sulyono orang tidak dikenal, masuk ke dalam gereja dan melakukan penyerangan menggunakan pedang panjang.

Menurut Romo Karl, kejadian memilukan itu sudah 2 minggu berlalu, hampir saja menjadi arwah. Namun nampaknya ada malaikat pelindung yang ikut campur tangan untuk menjaganya.

Saat itu sebenarnya bisa lari keluar gereja, seperti kebanyakan orang yang mengikuti misa tgl 11 Februari 2018 di gereja stasi St. Lidwina Bedog. Namun suara hati berkata: Jangan pergi. “Gembala yang baik tidak boleh lari bila serigala datang” (hm).

Sehingga pada saat itu tetap berdiri di altar untuk membelokkan perhatian si pelaku dari umat. Sesudah memukul domba “serigala” datang untuk memukul gembala. Melalui gang tengah gereja dengan pedang panjang yang diangkat tinggi dia berteriak “Allahu akbar”.

Namun di muka altar ia berhenti sebentar, seakan-akan masih berpikir, kok orang ini tidak takut..?. Bagaimana saya bisa membuat dia takut..?. Pada saat itu merasa seperti Daud yang menghadap Goliat (hm). Anehnya tanpa takut sama sekali. Kata Romo Karl Edmund Prier.

Kemudian si Goliat datang ke belakang altar, lalu memukul 2 kali di punggung dan pukulan ketiga di bagian kepala. Kemudian hanya berputar ke kanan, tetap berdiri disitu dan tidak jatuh. Banyak darah mengalir dari kepala lalu pergi tanpa diikuti oleh tersangka. Ketua stasi Bedog mendekati dan berkata, kita pergi ke rumah sakit.

Lanjur Romo Karl, sesudah si Goliat (tersangka Sulyono) memenggal kepala patung Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus serta merusak mimbar. Beberapa orang dari umat berusaha untuk melawannya dengan tongkat dan melempar kursi, namun tidak berhasil juga.

Kemudian seorang Polisi datang, tersangka tetap melawan hingga melukai dengan pedang. Karena merasa juga terdesak maka satu peluru bersarang ke kaki Sulyono untuk menghentikan aksi membabibutanya itu. Ungkap Romo Karl.

Setelah itu, di UGD Panti Rapih bersama tiga korban luka berat lainya segera discan bagian kepala. Dr. Wiryawan, ahli bedah berkata, ini harus dioperasi tetapi untung selaput otak dan otak sendiri masih utuh. Tanpa menunggu waktu, operasi langsung terjadi tanpa kesulitan. Sebagai oleh-oleh / relikui ada pecahan tengkorak yang diambil dokter dari dalam kepala. Ujarnya.

Ada tiga hal yang menarik sesudah kejadian tersebut: Pertama kunjungan Sri Sultan hari Minggu pada tanggak 11/2 di ICU Panti Rapih. Kata Sri Sultan “Saya minta maaf pada Romo”. Baru kemarin diberi tahu oleh Rm. InNugroho SJ.

Kedua, hari Senin tanggal 12/2. di Bedog umat Katolik mulai membersihkan gereja. Namun anehnya didampingi oleh umat Islam sebagai tanda solidaritas. Bersama -sama mencat gereja hingga sekarang nampak lebih segar. Bahkan seorang haji pada hari Senin langsung menyumbangkan patung Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus.

Bukan hanya itu, seorang menyumbangkan CCTV / alat alarm. Hal ini menunjukkan bahwa, masyarakat Yogyakarta berusaha keras untuk memperbaiki image sebagai kota nyaman yang akhir – akhir ini agak luntur.

Ketiga, Senin tanggal 19/2 di gereja Bedog dirayakan ibadah syukur. Gereja diberkati kembali oleh Bp. Uskup Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Para korban hadir mengucap rasa syukur sekalipu pembalut perban masih melekat.

Acara tersebut bukan saja dihadiri umat Bedog tetapi 1400 orang dari seluruh kota Yogyakarta ikut hadir. Tentu kompleks gereja dijaga ketat juga oleh aparat polisi. Dalam homili memberi waktu untuk sharing, pertama “Jangan takut! Kita mengalami bantuan luar biasa pada saat dimana diperlukan”.

Kemudian Kedua bahwa “Saya sudah memaafkan Sulyono dengan ikhlas. Karena setiap hari saya berdoa dalam Bapa Kami,seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Kata Romo Karl

Sekarang ini tinggal pemulihan. Rasanya tidak sakit tetapi masih lemas, karena Hb (darah) masih rendah. Perbannya sudah dilepas, tinggal menunggu rambutnya tumbuh kembali. Tutur Romo Karl Edmund Prier.

“Terima kasih atas segala doa dan perhatian semuanya. Maaf bahwa komunikasi sejak tanggal 11 Februari 2018 penuh, maka melalui surat umum ini membalas segala email, SMS dan WA,”tutur Romo Karl Edmund Prier. ( Email Mgr Sunarko)

Editor: Nikson Juntak

SHARE