Dokter Tigor Silaban, 37 Tahun Mengabdi di Pedalaman Papua

85

TELISIKNEWS.COM, PAPUA – Lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 37 tahun lalu, ia sudah memantapkan hati untuk tidak membuka praktik di kota. Ia memilih mengabdi di pedalaman Papua, di Oksibil, Puncak Jaya kawasan Jayawijaya.

Dia adalah Dokter Tigor Silaban, anak arsitek Masjid Istiqlal Jakarta. Selesai kuliah, Tigor langsung meninggalkan Jakarta dan mengabdi di pedalaman Papua.

Saat itu, untuk mencapai daerah Oksibil, Tigor harus berjalan kaki selama seminggu dari Wamena. Ia melakukan itu berkali-kali sejak pertama tiba.

Medan yang dilalui dan ditempuhnya begitu sulit, bahkan saat itu daerahnya dicap merah. Dimana penembakan sporadis masih marak di sana, itu tidak membuatnya surut karena sudah berjanji pada Tuhan.

“Saya sudah berjanji kepada Tuhan, kalau saya lulus, saya ingin bekerja di pedalaman Papua, jauh dari Jakarta. Saya ingin menolong orang, dan tidak ingin praktik,” kata Tigor Silaban.

Baru bebepa bulan bertugas di Oksibil, ada dokter yang terbunuh. Ia diminta pindah, tapi warga setempat marah. Di Oksibil, ia satu-satunya dokter.

Selama puluhan tahun di pedalaman Papua itu, perjalanan yang ditempuh berminggu-minggu lamanya dari kampung ke kampung untuk menggapai rumah penduduk yang sakit.

Sampai hari ini, Tigor Silaban masih di Papua. Namanya menjadi legenda di pedalaman Papua. ( NK)