Antisipasi Kebocoran Soal, SBMPTN Dilakukan Bakal Lewat Pusat Tes

54
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir. (Sumber foto: ristekdikti.go.id)

TELISIKNEWS.COM, JAKARTA – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan ke depan tes Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) melalui pusat tes.

“Selama ini, SBMPTN selalu melalui tulis dan sangat tinggi risiko kebocoran soalnya. Begitu juga yang diujikan belum tentu pas, yang kita lihat adalah potensi dan kemampuan anak itu melalui pusat tes,” ujar Menristekdikti dalam konferensi pers di Jakarta, seperti dikutip Antaranews.com, Jumat.

Penerimaan mahasiswa baru Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dilakukan melalui tiga cara yakni SNMPTN, Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC) dan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dan ujian mandiri yang diselenggarakan pihak kampus.

Pada tahun sebelumnya, UTBC dan UTBK mempunyai nama Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

“Yang kita lihat ada potensi dari anak itu. Kadang pada saat anak di sekolah kurang rajin, karena terbatas oleh fasilitas sekolahnya. Kemudian ada anak SMA satu fasilitasnya lengkap tersedia semuanya. Ini kan nanti hasil SBMPTNnya akan beda,” jelas Nasir.

Padahal, kemampuan akademiknya sangat mungkin sama. Melalui pusat tes itu, pihaknya yang mencoba sistem tes seleksinya tidak seperti itu lagi.

“Contoh dulu ada tes potensial kemampuan akademik, kemampuan logikanya seperti apa, kami maunya seperti itu. Kalau sekarang kan SBMPTN tes matematika, biologi dan lain-lain. Kedepannya melalui pusat tes, bisa dimanfaatkan untuk seleksi lain juga.”

Ke depan, lanjut dia, akan ada tes sesuai minat dan dibuka sepanjang tahun. Hal itu memungkinkan penyelenggaraan SBMPTN lebih dari satu kali dalam satu tahun.

Sementara itu, Ketua Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN/SBMPTN), Ravik Karsidi, mengatakan melalui pusat tes tersebut dapat menjangkau lebih banyak siswa.

“Kami targetkan bisa menjangkau 200.000 siswa,” kata Ravik.

Melalui mekanisme itu, siswa dapat menggunakan perangkat gawainya sendiri yang kemudian diverifikasi oleh pihak panitia. Pelaksanaannya pun bisa dimulai ketika anak di semester lima kelas XII SMA.

“Kami baru akan memulainya pada 2019. Jadi prinsipnya beri kemudahan semudahnya kepada masyarakat untuk mengikuti tes seleksi,” cetus Ravik.

Nikson Juntak/Sumber: ANTARA